Schizophrenia VS Clairvoyant

Mari kita ngobrol soal Schizophrenia sore ini. Schizophrenia itu apa sih?

Secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa Schizophrenia adalah penyakit mental yang disebabkan oleh kerusakan fisiologis pada otak. Pada wilayah sistem Limbik. Tepatnya pada Hypocampuss.

Penderita Schzoprenia sering mengalami gangguan halusinasi, mendengar suara-suara di kepala, kekacauan dalam komunikasi, ketiadaan hubungan yang stabil dengan lingkungan, kecenderungan menarik diri dari lingkungan, paranoid, dll yang berujung pada  keterasingan.

Penyebab penyakit ini antara lain, gen, adiksi obat dan alkohol dan lingkungan, termasuk di dalamnya trauma sebelum dan paska kelahiran.

Apakah ada hubungannya dengan Clairvoyant?

No. BIG No.

Saya akan mulai dengan apa itu Clairvoyant. Claire itu asal muasalnya dari Bahasa Perancis, yang artinya jernih. Jadi bisa dibilang segala atribut yang menggunakan kata Claire merujuk pada kemampuan seseorang menangkap/mengetahui dimensi (yang mengikuti kata Claire) lebih jernih dari kebanyakan orang.

Ada beberapa ‘Claire’ yang disepakati bersama sebagai kemampuan supra:

  • Clairvoyant, kemampuan untuk melihat masa depan dan masa lalu, juga spirit melalui eye’s mind. Umm, mungkin agan di sini ada yang bisa melalui mata yang sebenarnya?
  • Clairaudience, kemampuan untuk mendengar suara-suara pada frekuensi yang tidak mampu ditangkap oleh telinga pada umumnya. Nah, kalian yang sering banget mengalami momen, ngiiing… denging panjang lalu hening, coba fokus dan niatkan untuk (kalo istilah saya sih) download. Apapun itu terima dan simpan, kelak kalo dibutuhkan, informasi itu akan keluar sendiri. Syukur-syukur kalau bisa recalling sesuai keinginan hati.
  • Clairsensing/clairemphaty, kemampuan untuk memperoleh informasi dengan merasakan medan energi. Ada orang yang sedih pada jarak sekian meter clairsensing sudah ikut gelisah.
  • Clairtangency, biasa disebut juga dengan psychometric.
  • Clairaliance/clairscent, kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu berdasarkan aromanya. Clairescent sering mencium aroma seperti wangi dupa, melati, kopi, buhur berseliweran di udara.
  • Clairgustance, kemampuan untuk menentukan rasa tanpa meletakkan sesuatu dalam lidah.

Pada sebagian orang yang berbakat, bisa memiliki lebih dari satu kemampuan. Dan kemampuan multi dimensi ini sebenarnya bisa dicapai apabila koneksi antar susunan syaraf pada otak terjalin dengan maksimal.

Otaknya otak adalah berada di sistem Limbik. Sistem Limbik terdiri dari Hypothalamus, Hypocampuss  dan Thalamus. Mereka yang melakukan praktek meditasi dengan rutin, pada saat memasuki kedalaman mental tertentu, Hypothalamus-nya bekerja maksimal sehingga kinerja kalenjar-kalenjar hormon mengalami peningkatan. Dan membuat batang otak (sumsum tulang belakang) bereaksi dengan melakukan proses diamagnetik. Fyi, sumsum tulang belakang bersifat semi konduktor. Dengan adanya proses ini, maka energi hormonal pun mengalami peningkatan beribu-ribu kali. Hormon sering disebut  bersifat sebagai Neurokimia-Elektromagnetik. Jadi, masuk akal kalau saat meditasi kita sering mengalami/merasakan, serr..serr.. kedutan listrik, atau nggremet-nggremet di wajah atau bagian tubuh lain.

Abaikan. Karena ya emang proses dalam tubuh begitu adanya.

Lalu energi hormon yang berlipat tadi kemana?

Konon kabarnya, otak kita memiliki 100 milyar neuron. Setiap neuron memiliki sampai 20 ribu hubungan sinapsis. Masing-masing hubungan sinapsis mampu mengalirkan 10 informasi tanpa tumbukan.

Kalau seluruh simpul itu nyala, berapa banyak pemahaman yang akan kita peroleh. Bayangkan dahsyatnya. Bagaimana menyalakannya? Diperlukan energi listrik yang sangat besar. Sebesar energi yang dibutuhkan untuk menerangi sebuah pulau seluas Pulau Jawa.

Nah, energi hormon yang kita hasilkan setiap kali bermeditasi itulah yang perlahan-lahan, sedikit demi sedikit menyalakan setiap simpul. Maka ketika banyak simpul telah menyala maka kemampuan multi dimensi perlahan mengalami peningkatan. Itu sebabnya saya katakan di awal bahwa kemampuan ‘The Clairs’ bisa dilatih melalui praktek meditasi yang rutin.

Pada titik inilah perbedaan antara Schizophrenia dan Clairvoyant berada. Segala penglihatan atau pendengaran yang ‘berbeda’ dengan kebanyakan orang, harus bisa diseleksi dan dimaknai dengan kesadaran. Sebab jika tidak maka itu semua pada akhirnya hanya menempatkan seseorang pada BKI, Barisan Kena Ilusi alias Schizophrenia.

 

Horor

Sepertinya lagi nge-hits ya perkara horor-horor? Mulai Kaskus sampai Mojok mendadak bergenre horor meski hanya sepekan.

Sebagai anak yang lahir di pinggir hutan di sebuah kota kecil pedalaman Kalimantan Timur kemudian tumbuh besar masih di tanah Borneo, pengalaman mistik dan horor adalah cemilan sehari-hari.

Pernah suatu petang menjelang Maghrib seorang lelaki Dayak menenteng sebuah guci datang ke rumah. Meminta kami untuk membelinya. Mami menatap lelaki itu dan langsung membeli guci itu tanpa menawar. Saya yang penasaran, mengintip dari jendela saat lelaki itu pamit pulang. Dan hampir tercekik karena beberapa meter dari rumah kami lelaki itu lenyap. Beberapa malam kemudian, suara ledakan dar der dor terdengar dari atap rumah. Bukan itu bukan suara petasan atau mercon. Itu suara santet kiriman entah siapa. Selama adegan ledakan kiriman itu berlangsung kami serumah duduk berdekatan. Ngapain? Nonton sinetron. 😀
Esoknya Mami memeriksa deretan guci-gucinya. Guci lelaki Dayak misterius itu rompal bagian pinggirnya. “Untunglah kita membeli guci ini tempo hari.” Mami bergumam sendiri. Saya mengerutkan kening tak paham maksudnya.

Begitu pula perihal suara-suara aneh, pagar yang terbuka sendiri, bel pagar yang berbunyi tengah malam, bayangan berkelebat sampai kuyang yang memburu perempuan hamil tua. Kami bersaudara sudah kenyang. Dua adik saya tak begitu peduli perkara ini. Saya? Jelas peduli. Saya merekam dengan baik segala macam pantangan. Ini kearifan lokal yang patut dilestarikan lho, Dik.

Itu sebabnya ketika hawa rumah saya di Cibubur agak aneh, saya tak peduli. Yah beberapa kali sempat ada “sambutan selamat datang” yang lumayan atraktif. Tapi saya mewarisi kegalakan Mami. Ada bunyi aneh, saya jawab mengeluarkan bunyi aneh juga. Suara gedoran pintu saya balas gedoran yang lebih keras. Bantal saya ditarik saat tidur, mulailah saya keluarkan ancaman,”Gosongin, niy!” Gangguan mereda. Setelahnya saya mengambil momen untuk sendirian di kamar, berbicara sendiri menyampaikan ajakan berteman pada mereka. Bagaimanapun saya lah pendatang di wilayah mereka. Saya harus tahu diri juga. Bulan-bulan dan tahun selanjutnya lancar jaya.
Sampai kemudian…

“Ibuuuu, saya nggak bisa tidur. Saya takut. Ada laki-laki brewokan banyak bulunya suka nempelin wajahnya di jendela kamar saya, ngintip.”
Yah… Om Gendo bikin kerjaan.
Saya menghela napas menatap bocah belasan tahun yang membantu di rumah dan tengah menangis tersedu-sedu. Saya iba tapi juga kesal. Karena saya tahu persis ini bocah pasti melanggar “kesepakatan” yang kami buat.Yakni, menjaga area rumah tetap bersih.

“Kamarmu pasti kotor ya?” Saya menyelidik. Si bocah mengangguk malu.

Sebagai Nyai yang baik, tentu saya harus menjaga keselamatan mereka yang bekerja bersama saya, kan? Akhirnya saya memutuskan memanggil ustadz untuk mengusir semua mahluk tak kasat mata di rumah saya. Pada malam yang ditentukan, Pak Ustadz beraksi dengan botol-botol untuk menghisap mereka. Saya duduk di teras sendirian. Diam-diam menangisi kepergian mereka dengan cara yang ‘bengis’. Saya gak tega. Yah walaupun selama ini saya tak pernah melihat mereka langsung dengan mata saya (amit-amit jabang bayik!), tapi saya ‘melihat’ mereka. Lagipula kami selama ini hidup serumah dengan rukun dan damai. Hati saya sungguh melow saat itu…

Tak lama, Pak Ustadz berpamitan. Saya masuk ke rumah. Lantai bawah terasa lengang. Mbak Kun di dapur, Om Gendo di kamar belakang, Nenek tua dan dua cucunya yang kecil-kecil di kamar mandi bawah…semua tak ada. Perasaan saya makin hampa.

Saya memutuskan untuk tidur lebih cepat. Naik ke lantai atas dan membuka kamar, saya berhenti sesaat. Rasanya ada yang aneh. Hawa kamar saya berubah. Saya memandang ke penjuru kamar dan perlahan-lahan menoleh ke atas lemari pakaian…

Ya ampun, lima mahluk itu ternyata tengah ‘krunthelan’ nangkring manis di atas lemari!

Dasar. -_-

– Ken Ru –

St. Drogo; Antara Kesendirian dan Kedai Kopi

 

Saya tidak terlalu yakin Masbro dan Mbakbro yang kerap menulis ulasan tentang kopi dan kedai kopi,  juga  Mahmud dan Mamah setengah baya yang belakangan ini sering mengadakan arisan di kedai kopi cantik demi wefie yang instagramable, pernah mendengar nama St. Drogo.

Sebagian mungkin malah siwer dengan Drogo, Khal dari Klan Dothraki di serial Game Of  Throne. Tidak heran, karena  St. Drogo adalah santo yang tidak terlalu populer. Lagipula siapa yang menyangka kalau kedai kopi pun memiliki pelindung?  Saya sendiri menemukan nama St. Drogo secara tak sengaja saat browsing untuk draft tulisan dua tahun silam. Meski namanya hanya sekedar lewat ibarat cameo di draft saya yang mangkrak itu, namun fakta bahwa beliau adalah seorang santo pelindung kedai kopi, membuat saya meluangkan waktu sejenak untuk menelusuri sejarah kehidupannya.

Saat itu saya belum jatuh cinta pada kopi, yah ibaratnya baru sekedar tepe-tepe belaka. Kalaupun sedikit intens, baru sekedar percakapan dunia maya di malam-malam yang dingin dan sepinya menggigit. Lalu apa yang bisa saya pahami dari dirinya secangkir kopi? Maka saat itu, saya tak berhasil  menghayati korelasi baik secara filosofis maupun emosi antara kehidupan St. Drogo dengan diimaninya beliau sebagai Patron Santo oleh para pemilik kedai kopi di wilayah perbatasan Perancis dan Belgia kira-kira 275 tahun sejak Pope Gregorius XIII mengangkatnya sebagai Santo (Orang Suci dalam tradisi Katholik).

Setelah bersetia dengan kopi selama dua tahun sejak ‘perkenalan’ pertama saya dengan St. Drogo barulah saya sedikit banyak bisa mengalami pengalaman batin seorang penikmat kopi. Meski dinikmati di tengah hingar bingar obrolan dan gelak tawa, kopi selalu disesap  dengan ketakziman yang seolah terprogram di alam bawah sadar. Perlahan tanpa ketergesaan. Selalu ada jeda di tengah keriuhan saat cairan hitam pekat itu menyentuh kemoreseptor, membangunkan tiga sensor rasa pahit, asam dan manis sekaligus pada lidah untuk kemudian diteguk mengalir ke tenggorokan. Pada momen beberapa detik itulah seorang penikmat kopi terhubung pada semestanya sendiri di ruang dan waktu yang tak bisa diganggu gugat untuk kemudian kembali lagi larut dalam keriuhan.

drogo2Sebagai seorang santo, St. Drogo jelas memiliki kemampuan adi biasa. Bilocation adalah salah-satu kemampuan adi biasa yang dimiliki oleh St. Drogo. Seperti asal katanya, Bi yang artinya dua dan Locatian berarti tempat, Bilocation berarti kemampuan seseorang untuk berada dalam dua tempat dalam satu waktu. Konon kabarnya St. Drogo kerap terlihat sedang merawat salah-satu warga desa dan secara bersamaan memimpin sebuah misa.

Meski tidak melibatkan fisik, kemampuan seorang penikmat kopi untuk on – off  secara cepat pada dua state kesadaran yang berbeda saat menyesap kopi inilah yang dikatakan mengilhami para barista saat kopi mulai masuk ke wilayah Belgia dan Perancis di sekitar abad ke 17 untuk  mengasosiasikan diri kepada St. Drogo dengan kemampuan adi biasa bilocation-nya.

Meski ada juga yang berpendapat, proses pemanggangan/pembakaran biji kopi untuk menampilkan cita rasa terbaik kopi serupa dengan pengalaman adi biasa St. Drogo lain yang menjadi sebab beliau menjadi patron kedai kopi. Yakni ketika terjadi peristiwa kebakaran Gereja di Sebourg, sebuah desa kecil di utara Perancis tempat St. Drogo mengabdikan dirinya sebagai gembala umat dan gembala beneran. Dalam peristiwa kebakaran itu St. Drogo terperangkap di bilik kecil tempatnya mendaras doa sehari-hari. Namun setelah kebakaran berhasil dipadamkan tampak St. Drogo masih berlutut dengan selamat sejahtera tanpa terluka sedikit pun meski kondisi di sekelilingnya lantak hangus terbakar. Peristiwa adi biasa ini dianggap sebagai perumpamaan yang sempurna untuk biji kopi yang justru lebih enak usai melewati proses pembakaran. Mirip kesucian St. Drogo yang hadir usai insiden kebakaran.

Meski alasan pasti menetapkan  St. Drogo sebagai pelindung kedai kopi masih menjadi sebuah pertanyaan besar, ada sisi menarik lain dari St. Drogo. Konon kabarnya bahwa selain menjadi pelindung kedai kopi  St. Drogo ternyata juga menjadi pelindung bagi orang-orang yang tersisihkan karena penampilan yang tidak menarik. Fakta bahwa St Drogo adalah seorang santo yang penyendiri sekaligus pelindung kedai kopi adalah dua hal yang terlalu kebetulan menurut saya. Perhatikan kata kuncinya; tersisihkan, penyendiri dan kopi. Yup, ketiganya mengingatkan saya pada; Jomblo.

Sebuah imajinasi yang terlalu liar tentu jika membayangkan mas-mas jomblo lantas ramai-ramai meneguhkan diri dalam perlindungan St. Drogo sak kopi-kopinya sekalian. Meski jika terjadi pun saya yakin karunia kasih yang dimiliki St. Drogo akan menerima jiwa-jiwa yang kesepian itu dalam perlindungannya.

Dan buat saya pribadi yang menghormati orang-orang suci dari tradisi relijius manapun, memasang gambar St. Drogo pada dinding kedai kopi impian saya kelak sudah barang tentu adalah bentuk penghormatan saya untuknya. Termasuk rencana menggratiskan secangkir kopi untuk setiap transaksi pada hari perayaan St. Drogo  yang jatuh di tanggal 16 April setiap tahunnya.

Tentu saja segala rencana mulia itu baru dapat terealisasikan setelah kedai kopi saya pindah alam terlebih dahulu. Dari alam khayalan ke dunia nyata. Dari lamunan ke pendekatan, ya kan Mas?

 

– Ken Ru –

Ashtangi Patah Hati

 

Ashtangi; a person who practices or teaches Ashtanga yoga – Merriam Webster Dictionary

 Saya berkenalan dengan Yoga kurang lebih tiga tahun silam. Seandainya saya seorang yogini yang tekun, pastinya saya sudah menguasai aneka macam asana yang instragamable. Kalau mau lebay, harusnya lagi dalam kurun waktu sekian saya sudah di-endorse salah-satu produk perlengkapan yoga. Namun masalahnya (dan menjadi akar dari semua masalah di kehidupan saya) adalah ketekunan yang minim banget. Iya, saya defisit ketekunan. Walhasil kemampuan saya yah segitu-gitu saja. Standard. Sebelas dua belas sama emak-emak yang baru belajar yoga 3-4 bulan tapi ribut banget perkara membeli yoga mat yang berjeti-jeti harganya. Mungkin mereka kurang paham adab di studio yoga atau saya yang iri karena yoga mat milik saya yang tak ganti-ganti dua tahun lamanya. Kemungkinan yang terakhir rasanya yang paling akurat.

Meski bertubuh kurus dan punya modal lentur dari latihan menari berbelas tahun, nyatanya saya struggling di banyak asana dasar. Chaturanga misalnya, saya memerlukan waktu lebih dari 1,5 tahun untuk bisa menurunkan tubuh dengan stabil dan benar lalu berayun cantik pindah ke posisi Urdhvamukha Svanasana. Selama 1,5 tahun itu, tubuh saya ambleg jatuh menyentuh mat karena lengan yang tak cukup kuat menyangga tubuh. Masih perkara lengan yang kurus, lebih dari setahun saya hanya mampu duduk menyamping ala putri duyung sebelum akhirnya benar-benar bisa melakukan side plank alias Vasisthana. Yoga buat saya sungguh sebuah perjuangan merebut hatimu. Tapi cinta memang perkara rumit. Tak peduli betapa suram kemungkinannya, saya bertahan.

Ini tentang Yoga, Kang. Bukan tentang kamu. Jangan mengerutkan kening begitu, dong.

Karena tak bercita-cita muluk menjadi Yoga Master, saya dengan santai berpindah-pindah aliran. Dari Hatha ke Iyengar lalu jatuh hati padamu. Maksud saya, Ashtanga. Sama seperti saya melarang keras kalian membayangkan saya dalam berbagai asana yang rumit, tolong jangan bayangkan saya berguru Ashtanga pada Guruji yang mumpuni. Saya belajar dari Youtube. Tak mampulah dompet ini membayar biaya kursus plus transport Cibubur-Kemang setiap kali kursus. 45 menit video Ashtanga Yoga dengan instruktur yang sangat jelas memberi perintah dan kecepatan irama yang masuk akal untuk pemula seperti saya.

Video yang membuat saya jatuh cinta pada Ashtanga. Bayangkan, setiap hari saya harus melakukan serangkaian asana yang sama. Ini jelas sebuah perkara besar untuk seseorang yang bermasalah dengan ketekunan seperti saya. Maka tak heran jarang sekali saya bisa menunaikannya dengan rutin selama lima hari berturut-turut. Bahkan selama lima hari itu terkadang saya terkapar di menit ke-20 atau selesai namun terengah-engah. Tapi sekali lagi, cinta membuat saya bertahan. Saya terus melakukannya meski jatuh bangun.

Hari ini mungkin hari keberuntungan saya. Pagi tadi saya meniatkan diri dengan teguh, bahkan Patanjalim Mantram sebelum ber-Ashtanga pun saya daraskan dengan takzim. Saya fokus penuh pada setiap asana. Hanya ada saya, suara instruktur dan deru lembut napas ujayyi saya. Hasilnya adalah 45 menit yang menakjubkan. Keringat mengalir deras namun tak berlebihan, napas teratur sampai akhir dan tubuh yang sangat kooperatif . Dan yang terpenting, rasa bahagia dan terimakasih pada diri sendiri yang hadir begitu besar. Untuk yang pertama kalinya, saya merasakan sinkronitas antara pikiran, tubuh, mental dan napas. Pengalaman fisik dan batin yang saya tak pandai melukiskannya di sini.

Kerennya lagi (menurut saya tentu), ini terjadi justru di saat saya patah hati. Fokus ternyata tak berkorelasi dengan perasaan. Niat yang utama. Ketika niat diteguhkan, perasaan yang tadinya ada di ring 1, digeser ke ring 4 atau malah 5. Ini ternyata sangat bisa dilakukan. Apa yang saya alami pagi tadi meruntuhkan teori bahwa saat kamu happy, segalanya jadi tampak lebih mudah. Dan saat galau maka yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak persis begitu ternyata. Ketika perasaan bisa disingkirkan ke ring yang lebih luar, ia tak lebih sebuah papan penanda bertuliskan GALAU di kepala yang tidak berarti apa-apa buat ketenangan. Sama halnya saat kita melewati sebuah papan alamat di jalanan, hanya menoleh saja tak berkeinginan untuk mampir.

Maka saya katakan, janganlah takut mengalami banyak hal di kehidupan yang melibatkan perasaan. Dilahirkan sebagai manusia, kita memang ditakdirkan mengalami aneka petualangan perasaan yang naik turun seperti roller coaster. Namun sepanjang tetap aware dalam membuat pilihan dan fokus pada pilihan tersebut, roller coaster tetaplah wahana yang seru untuk dimainkan. Tinggal memilih, hendak patah hati dengan lemah atau patah hati dengan elegan. Itu saja.

Bukan begitu, Kang?

– Ken Ru –

Gambar disunting dari:

http://www.wallpapersxl.com

Dongeng Perempuan Naga dan Lelaki Kelinci

 

Hari ini  Perempuan Naga  riang hatinya. Ia bangun dua jam lebih pagi dari biasanya, meminum segelas air putih dan menyambungnya dengan jamu kunyit asam buatannya sendiri. Beberapa waktu lalu Perempuan Naga telah berjanji untuk lebih peduli dan merawat mooladhara-nya dengan baik  maka pagi tadi ia memilih sarapan pagi yang semerah darah. Segelas besar  jus sayuran mentah; Bit, sekerat Wortel dan Tomat.

Namun bukan itu yang membuat pipi Perempuan Naga bersemu merah.

Melainkan  sebuah paket  yang tiba di depan guanya pagi tadi. Paket dari Lelaki Kelinci yang tinggal di bukit di pinggir danau yang permukaan airnya berwarna biru kehijauan.  Perempuan Naga belum pernah mengunjunginya. Kedua sayapnya belum pulih benar akibat 13 tahun pertempuran yang lalu. Sementara Lelaki Kelinci terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang menguras waktu.

Kalian tentu bertanya-tanya, lalu bagaimana bisa Perempuan Naga dan Lelaki Kelinci saling mengenal?

Itu bukan perkara sulit kalau kau selalu terjaga di saat sebagian besar  penghuni Runeland terlelap. Percaya atau tidak, Mahluk Nocturnal selalu terhubung satu sama lain dengan cara yang aneh. Mereka seolah dihubungkan oleh benang perak yang tak terlihat. Dalam imajinasi Perempuan Naga, benang perak ini terlihat seperti jaring laba-laba bercahaya jika kau melihatnya dari luar angkasa. Mahluk Nocturnal  telah menjadi penjaga Runeland tanpa mereka sendiri menyadarinya.  Seperti sebuah benteng, yang tak bisa ditinggalkan kosong, seperti itulah Perempuan Naga, Lelaki Kelinci dan Mahluk Nocturnal lainnya berjaga di setiap malam yang kelam dan sepi. Begitulah yang ada di kepala Perempuan Naga.

Maka Perempuan Naga tidak terkejut ketika malam itu langit-langit guanya yang terbuat dari batu tiba-tiba berpendar oleh serbuk cahaya keemasan. Serbuk cahaya itu membentuk huruf-huruf  yang menyusun kalimat sapaan yang dikirim oleh Lelaki Kelinci dari bukit di seberang danau. Meski belum mengenalnya, Perempuan Naga telah beberapa kali melihat namanya dari berita-berita yang dikirimkan Angin Utara. Jadi Perempuan Naga membalas sapaan itu dengan manis.

Sejak itu nyaris setiap malam gua si Perempuan Naga tampak terang benderang oleh serbuk cahaya yang menuliskan pesan-pesan mereka berdua yang datang silih berganti di langit-langit gua. Kadang-kadang, Perempuan Naga bertanya-tanya, seperti apakah pesannya datang di liang Lelaki Kelinci? Lewat irama ketukan hujan di jendela seperti  pondok Tuan Angin yang pemurung, atau melalui helai-helai daun teh pada cangkir ajaib milik si Gadis Rempah, atau jangan-jangan sebarisan wortel datang mengetuk pintu dan menyanyikan isi pesan yang Perempuan Naga kirimkan setiap malam? Membayangkannya membuat Perempuan Naga terkikik sendiri. Lalu ia tak ambil pusing. Yang jelas serbuk cahaya yang berwarna keemasan itu telah menunjukkan, Lelaki Kelinci adalah orang yang penting dalam kehidupan Perempuan Naga sebelumnya.  Meski tak cakap, Perempuan Naga menguasai beberapa sihir dasar. Maka ia memantrai gua tempat tinggalnya dengan Mantra Pemilah Pesan. Pesan dari orang-orang yang penting dan dekat akan bercahaya keemasan. Cahaya  perak untuk  para sahabat , pendar ungu untuk pesan-pesan yang manis dan bersahabat. Dan di depan pintu gua tong sampah ajaib yang tak terlihat akan langsung mengunyah dan menelan pesan-pesan buruk yang bisa membuat kesehatan Perempuan Naga terganggu.

Perempuan Naga memang ringkih, 13 tahun bukan waktu yang singkat. Energinya terkuras begitu banyak. Itulah sebabnya Perempuan Naga memilih menyendiri di gua  pada tebing  sebuah gunung batu yang terjal.  Dia mengucilkan diri untuk memulihkan sepasang sayapnya yang penuh luka, apinya bahkan juga hatinya.

Pagi tadi Perempuan Naga terus-terusan memandangi kotak  di pangkuannya dan bibirnya mengulaskan senyum. Senyum yang semakin merekah tatkala ia melihat isi kotak yang telah dibukanya dengan hati-hati. Bubuk kopi yang wangi dalam dua kantung merah, daun teh terbaik, beberapa keping coklat dan sekotak bubuk coklat… kesemuanya dark chocolate. Suatu malam Perempuan Naga pernah mengatakan milk chocolate akan membuat tenggorokannya gatal dan batuk-batuk. Karena itu ia hanya dan sangat menyukai dark chocolate. Lelaki Kelinci ternyata seorang pengingat yang baik.

Klan Kelinci adalah penyuka buku. Itu sebabnya Lelaki Kelinci selalu menyelipkan buku koleksinya setiap kali mengirimkan bingkisan untuk Perempuan Naga. Kali ini ia mengirimkan buku karya penulis yang disukai Perempuan Naga nyaris sebesar ia menyukai kopi.  Mungkin itu yang membuat pipi Perempuan Naga memerah dan sepasang matanya berkaca. Karena setahuku, ini bukan bingkisan yang pertama yang diterimanya dari Lelaki Kelinci. Mungkin juga dua kantung merah berisi bubuk kopi itu. Atau keping coklat atau bisa jadi karena nama Perempuan Naga yang tercetak di kotak berisi daun teh kering. Entahlah. Ketika aku tergoda  menanyakannya, Perempuan Naga tak menjawab.  Ia hanya tersenyum sepanjang sisa hari itu.

Tunggu, kisah ini belum selesai.

Tadinya kupikir Perempuan Naga akan mengucapkan terima kasih seketika dan bertubi-tubi. Menandak-nandak dengan riang seperti bocah yang disenangkan dengan permen. Tetapi tidak, aku salah besar. Perempuan Naga hanya mengatakan bahwa bingkisannya telah tiba dan percakapan-percakapan tak penting lainnya kepada Lelaki Kelinci kemudian pergi mandi.

Begitulah. Perempuan Naga yang satu ini sungguh tak pandai berterima kasih.

Tapi dari caranya tersenyum seharian ini, aku tahu Lelaki Kelinci baru saja masuk ke dalam jiwa Perempuan Naga, menemukan luka-lukanya dan menyentuhnya dengan lembut. Jantung Perempuan Naga mampat oleh rasa manis yang dipompa mengalir di ribuan pembuluh darahnya dan membuatnya salah tingkah. Tak menemukan cara terbaik untuk berterimakasih.

Sebab kau tahu, seringkali kalimat ‘Terima Kasih’ tak cukup bisa melukiskan besarnya rasa terima kasih yang kau miliki untuk kelembutan hati seseorang kepadamu.

Seperti itulah yang terjadi pada Perempuan Naga pada Lelaki Kelinci.

– Ken Ru –

Gambar disunting dari:

Pinterest.com

Mooladhara, Aku Padamu

 

14 Februari

Ramai-ramai mengucapkan ‘Happy Valentine’ bagi yang merayakan. Yang lainnya, setel tampang kenceng atau minimal woles sejak beberapa hari lalu. Bak calon Begawan yang melewati  ilusi  deretan bidadari, keteguhan masbro dan mbakbro fundamentalis menghadapi pernak-pernik pink  dan merah yang menggemaskan ini patut mendapat apresiasi. Segala macam tameng dikeluarkan. Mulai dari dalil, sejarah sampai motto, ‘I am Mosleem. No Valentine’s Day!’.

Oke deh, Kakaaak… Apapun asal kau senang. Tapi boleh nanya nggak, kakak nggak bosen gitu segala macem dibenci? Mbok yang woles gitu lho, Kak. Kalau nggak suka ya nggak usah diikuti, nggak usah dicomot, nggak usah dimaem. Gitu aja tho? Simpel. Kakak mah sukanya emang yang ribet. Binik aja maunya ampe empat. Kan ribet atuh ngurusinnya, Kak.

Saya ngurus dedek Bebeb satu aja nggak kepegang, Kak…  Duh.

Ok. Abaikan  saja Kakak-kakak  yang nggak sante kurang piknik itu. Mari bercakap mesra soal Valentine kali ini.

Valentine ini  seperti biasa saya mengambil langkah yang anti mainstream, melepaskan  dedek Bebeb kesayangan. Antitesis dari judul Buku sejuta umat, Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Maka saya, Kulepas Engkau di Hari Valentine. Heroik.

Hahaha enggak ding…  bukan hari ini tapi kemarin. Eh.

Valentine saya dedikasikan untuk Mooladhara. Cantik ya namanya, Dik? Penampakannya juga cantik. Bersemangat dan seksi. Teridentifikasi dengan warna merah. Sensual sekali.

Keningmu jangan berkerut gitu, Dik.

Makanya tho, otak itu jangan diberi asupan pertengkaran soal LGBT  melulu. Jadi pikiranmu bisa terbuka sedikit. Baca kalimat gitu aja udah mikir yang enggak-enggak. Bukan Dik, orientasi seksual saya masih ke mas-mas jangkung, kurus dan pintar. Bukan ke mbak-mbak sensual.

Mooladhara itu  Dik, nama cakra dasar yang ada di tubuh manusia. Setidaknya ada tujuh cakra utama, enam cakra besar dengan fungsi khusus dan begitu banyak cakra biasa juga cakra mini di tubuh itu. Kata cakra sendiri berarti cakram. Ini merujuk pada bentuk kumparan energi dalam tubuh yang bertujuan untuk memaksimalkan fungsi tubuh fisik maupun eterik. Mooladhara termasuk dalam tujuh cakra utama, letaknya di bawah tulang ekor. Karena letaknya ini maka Mooladhara berkaitan erat dengan aktivitas grounding. Grounding jelas berhubungan erat dengan keberadaan Ibu Bumi. Ibu Bumi seperti yang kau tahu, Dik  (kuanggap engkau tahu), selalu dihubungkan dengan keberlimpahan (hasil bumi), pekerjaan yang bersemangat, stabilitas, rasa aman. Karenanya secara singkat Mooladhara bisa dikatakan berhubungan dengan segala hal tentang vitalitas dan kehidupan keduniawian.

Perkembangan tren spiritualitas belakangan ini terutama sejak era New Age yang mengelu-elukan cakra Ajna ke atas, membuat para pencari dan pejalan cenderung mengabaikan si Mooladhara. Nggak heran kalau sekarang banyak spiritualis kere. Termasuk saya. Hahaha.

Pait sik mengakuinya. Tapi kenyataannya memang begitu.

Bedanya spiritualis dahulu dan sekarang adalah di latar belakang kekerean. Latar belakang ini erat hubungannya dengan proses laku yang dijalani. Para sepuh jaman dahulu menjalani jalur ini dengan totalitas penuh. Fisik dan spiritual. Malam meditasi. Pagi yoga, beladiri, atau bertani memenuhi kebutuhan keseharian. Naik turun gunung, keluar masuk hutan  itu perkara kecil. Batin juga tertempa melalui pengamatan terhadap kehidupan di alam. Fisik dan mental seimbang. Hidup alakadarnya akhirnya sekedar pilihan. Karena kemelekatan pada materi yang tidak berlebihan.

Sementara yang terjadi di era yang serba instan seperti sekarang,

Ujug-ujug datang retreat meditasi  wiken dan bilang,”Guru, I am here for two days. Can you enlighten me?”

Holy shit.

Ajna Activated. Shortcut.

Voila. Lalu kita merasa menjadi spiritualis seutuhnya. Luar dalam lahir batin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bulan berganti. Tahun berlalu. Kita tak menyadari ketidakseimbangan yang terjadi. Bicara langit lancar jaya. Cari duit macet total.

See, kekerean terjadi bukan karena pilihan yang kita ambil. Melainkan karena tidak adanya pilihan selain menjalaninya dengan tabah. Tapi apakah kita cukup aware pada penyebabnya?

Keseimbangan, Dik.

Kunci segala sesuatu agar berjalan harmonis adalah keseimbangan. Mooladhara adalah akarmu. Seperti Ibu Bumi, ia yang membuatmu berjalan dengan jejeg. Tidak melayang di awang-awang namun juga cukup stabil untuk berdiri dan sesekali mendongak menyapa Bapa Langit. Mooladhara yang akan mengembalikan kewarasanmu. Dalam hidup kau perlu sesekali gila. Kegilaan yang membuat hidupmu lebih hidup. You need to have some madness in you. Tapi saat kau total dalam kegilaan, kau tersesat!

Dan keseimbangan adalah titik di antara kewarasan dan kegilaan. You’re master of yourself. Selalu lihat ke dalam. Kenali waktumu, kapan harus menggila dan kapan mulai belajar waras.

Valentine ini saya dedikasikan untuk Mooladhara.

Selama ini seperti kekasih yang setia mendoakan saya diam-diam. Mooladhara mendukung kehidupan saya yang banyak tingkah ke sana ke mari dengan putaran cahayanya yang redup. Sayup-sayup sampai. Kadangkala rindunya saya rasakan lewat tubuh yang ringkih dan kemalasan tak berujung. Tapi rindu, Dik … seringkali ia sampai tanpa kita tahu siapa pengirimnya.

Tahukah bintang yang kau sapa…

Tahukah rumah yang kau tuju…

Itu aku.

Begitulah Mooladhara kepada saya. Persis seperti saya padamu, Beb.

Demi cinta saya pada diri sendiri, saya mendatangi Mooladhara. Menyapanya dengan mesra penuh welas asih. Meminta maaf atas kelalaian saya mengabaikannya. Mooladhara saya hampir layu, Dik. Butuh usaha keras membuatnya sehat berseri-seri seperti seharusnya. Namun begitulah cinta. Kau harus menyuburkannya dengan kebaikan-kebaikan agar buahnya yang manis tetap terasa manis. Tidak sepa apalagi pahit.

Sebab Ia akarku, pada Mooladhara aku kembali.

Happy Valentine!

– Ken Ru –

 

Gambar disunting dari:

http://www.loudread.com

 

 

 

 

Sacred Goodbye

Feeling gratitude for each moment you experience and loving what is and what has been, will remind you that every breath you take, holds a deep and profound awareness.

Let gratitude be your guide in your relationship. Be thankful for all you learn from this person. No friends. No enemies. Just teachers along life’s journey. Be grateful for the laughter and even the tears. So you will aware of true love in all forms.

I set you free, my Beloved. Thank you for that beautiful hello. I bow divine in you. ❤

 

– Ken Ru –